Berdasarkan statistik, pengangguran di Indonesia mencapai angka 7,17 juta pada bulan februari yang sebelumnya pada bulan angustus berada pada angkat 7,54 juta. Dan yang mengejutkannya lagi bahwa penurunan angkat tersebut bukanlah karena perbaikan dari bidang ekonomi, melainkan kenaikan dalam bidang industri di Negara kita. Dari dari data tersebut, kurang lebih 900.000 bergelar Sarjana. Menyedihkan bukan kondisi ketenagakerjaan di Negara kita?

900.000 orang bergelar sarjana menganggur? Dari lulusan universitas mana saja? Kenapa mereka menganggur? Apakah karena mereka malas bekerja? Jawaban tersebut pasti beragam. Tetapi kalau kita telisik lebih jauh, penyebabnya adalah para fresh graduate tidak mempunyai Skill lebih dalam melakukan pekerjaannya. Mereka cenderung standar dalam melakukan pekerjaannya, sedangkan dalam prakteknya perusahaan menginginkan para karyawannya mempunyai kemampuan lebih dalam menghandel semua tugasnya. Tanpa mereka sadari mempunyai kemampuan yang lebih itu salah satu tolak ukur kita dalam mendapatkan suatu pekerjaan. Contohnya, seorang akunting tidak hanya bisa dalam membuat laporan keuangan saja tetapi kalau bisa mereka membuat budget untuk perusahaan selama satu spilleautomater på nettet
casino periode. Dan contoh lainnya adalah seorang sarjana psikologi yang tugasnya menangangi rekrutmen, yang bisa menggunakan alat tes psikologi klasik, bisa juga menggunakan grafologi.

Lalu mengapa disarankan mempelajari Grafologi? Karena grafologi adalah salah satu cabang ilmu yang sedang berkembang pesat di Indonesia. Perusahaan besar sudah banyak yang menggunakan grafolog handal dalam menangangi rekrutmen, placement, dan menyelesaikan konflik internal. Di Indonesia masih jarang yang mampu menganalisis tulisan tangan, dengan kita lebih terdepan mempelajarinya kita pasti mempunyai jam terbang yang lebih dan tentu saja pengalaman kita bertambah. Selagi banyak orang yang mencoba belajar dan kita sudah expert terlebih dahulu, pastilah kita dihargai lebih oleh perusahaan.