Dalam dunia ketenagakerjaan, ada kondisi yang dikenal sebagai job mismatch, yaitu ketika kemampuan, minat, atau latar belakang seseorang yang tidak selaras dengan pekerjaan yang dilamar atau dijalani. Di Indonesia, fenomena ini cukup signifikan. Data dari GoodStats menunjukkan bahwa sekitar 48% pelamar melamar pekerjaan yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan mereka, sering kali karena ketertarikan atau kebutuhan mendesak .
Bahkan, sekitar 35% pemuda bekerja di bidang yang tidak sesuai dengan tingkat pendidikannya. Ini menunjukkan bahwa masalahnya bukan hanya sulit mendapat pekerjaan, tetapi juga sulit menemukan posisi yang benar-benar sesuai dengan bidangnya. Alhasil, CV sering kali hanya merepresentasikan “apa yang sudah dilakukan” semata, bukan “bagaimana seseorang bekerja dalam bidangnya”. Padahal, dunia kerja tidak hanya mencari kemampuan teknis, tetapi juga cara berpikir dan cara beradaptasi.
Hal ini jelas mengapa banyak fresh graduate merasa “sudah memenuhi syarat”, tetapi tetap belum mendapatkan peluang yang tepat. Bukan karena mereka kurang baik, tetapi karena belum sepenuhnya memahami posisi dirinya sendiri.
Fenomena job mismatch juga sering terjadi karena banyak orang melamar pekerjaan tanpa benar-benar memahami arah untuk dirinya. Mungkin ada yang mengikuti tren, ada yang sekadar “coba dulu” dan bahkan ada juga yang terpaksa menyesuaikan dengan kondisinya.
Di sisi lain, perusahaan juga mengalami kesulitan yang sama. Bahkan, sekitar 46% perusahaan mengaku kesulitan menemukan kandidat yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan mereka. Yang artinya, baik pelamar maupun perekrut sama-sama mencari kesesuaian yang pas dalam dunia pekerjaan.
Poin Penting yang Sering Terlewat
Di tengah fokus pada CV, portfolio dan skill teknis, ada satu hal yang sering terlewat yaitu mengenali diri sendiri. Mengenali bidang apa yang sesuai dengan diri sendiri dan pertanyaan-pertanyaan mengenai bagaimana diri ini menghadapi pekerjaan tersebut. Misal, jika berada di pekerjaan yang mengharuskan banyak berbicara, kita tahu bagaimana cara menghadapinya dan apakah poin itu sesuai dengan diri sendiri. Dengan begitu, kita pun akan merasa nyaman dalam mengerjakannya ketika kita mengetahui apa yang dibutuhkan dan diinginkan.
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang jarang muncul di CV dan bahkan terasa lebih mahal. Maka dari itu, belajar mengenal diri sangat menentukan dalam hal ini. Apakah seseorang bisa “nyantol” di sebuah pekerjaan tersebut. Hanya dengan mengenal diri lebih dalam, kita bisa membuka berbagai pintu untuk mempermudah kita dalam mencari pekerjaan.
Di zaman sekarang, kita bisa lebih mudah mengenal diri sendiri hanya dengan mempelajari pola-pola yang ada dalam tulisan tangan. Yaitu melalui ilmu Grafologi. Kita bisa tahu bagaimana cara seseorang menulis dapat memberi gambaran tentang ritme kerja, bagaimana kemampuan kita memiliki tolak ukur yang sama dengan bidang tersebut, kestabilan emosinya, hingga kecenderungan dalam mengambil keputusan.
Ketika Tidak Nyantol, Mungkin Bukan Kurang Hebat
Tidak mendapatkan pekerjaan bukan selalu berarti kurang kompeten. Bisa jadi, kamu sedang berada di fase mencari titik temu antara siapa dirimu dan apa yang dibutuhkan oleh lingkungan kerja. Alih-alih terus menambah daftar prestasi, mungkin yang lebih dibutuhkan adalah memperdalam pemahaman tentang diri sendiri.
Karena pada akhirnya, pekerjaan yang tepat bukan hanya yang “menerima kamu”, tetapi juga “yang bisa kamu terima,” sehingga bisa membuatmu bertahan, berkembang dan merasa selaras. Gunakan tulisan tangan sebagai bahan refleksi kesiapan diri untuk bekerja dengan mengikuti kelas disini.









